Sunday, 17 July 2011

Rapalan Enam Dewa (Sandi Enam Orang Suci)

Rapalan 6 Dewa berasal dari tanah India berdasarkan pemahaman ajaran Buddhisme tentang 6 dewa suci. Jurus diciptakan oleh murid Sidharta yang bernama Se Hwa Shen Chen pada masa 300 tahun sebelum masa Dinasti Tang. Di kala itu, Kaum sesat Brahmana telah dibasmi dari tanah Tian Chu (India). Sang ketua brahmana, Mo A Ka Lo beserta ketiga muridnya melarikan diri hingga ke Cina. Agar ajaran sesat Brahmana tidak menyebar hingga ke Daratan Cina, Se Hwa Shen Chen diutus untuk mengejar dan menghadapi Mo A Ka Lo. Se Hwa Shen Chen akhirnya tiba di daerah suku Nan Mang yang berada di pinggiran daratan Cina. Di sana, Se Hwa Shen Chen mendapati daerah tersebut terjangkit oleh penyakit yang telah merenggut banyak korban. Dirinya menghentikan pengejaran dan tinggal daerah Nan Mang demi mengobati penduduk dari wabah penyakit. Belakangan Se Hwa Shen Chen mendengar kabar bahwa Mo A Ka Lo telah dikalahkan oleh seorang pendekar aliran Toisme; Kuo Sweng Yang, yang merupakan ketua Chen Yu Tao di masa itu. Se Hwa Shen Chen pun menetap di Nan Mang dan mengajari penduduknya bercocok tanam serta Jurus Rapalan 6 Dewa. Semenjak itu, Rapalan 6 Dewa mulai berakar di Nan Mang.

Setelah 3 generasi berlalu, Rapalan 6 Dewa jatuh ke tangan ketua Brahmana yang baru; Mo A Ye. Pemahaman tentang 6 dewa sejati pun mulai berubah berdasarkan pemahaman Brahmana akan kesenangan duniawi. Jurus ini pun akhirnya berkembang sebagai jurus andalan dalam Aliran Brahmana. Mo A Ye mewariskan Rapalan 6 Dewa kepada kelima muridnya, setiap orang menguasai satu bentuk rapalan jurus.

Rapalan 6 Dewa, adalah jurus pertama yang dikuasai oleh Lie Se Min; sang kaisar perintis Dinasti Tang sebelum dirinya menguasai 4 jurus tapak Buddha. Lie Se Min awalnya mempelajari jurus Rapalan 6 Dewa dari gemblengan keras Mo A Ye, namun pemahaman jurusnya akan 6 dewa sejati semakin berkembang ketika dirinya tiba di daerah suku Nan Mang. Penguasaan Rapalan 6 Dewa tergantung dari bakat dan kemampuan setiap manusia. Karena sulit untuk dilatih, umumnya setiap orang hanya menguasai satu rapalan, seperti halnya kelima pengikut Mo A Ye dan keluarga penjaga Pelindung Penakluk Iblis dari suku Nan Mang. Bahkan Mo A Ka Lo yang merupakan ketua Brahmana terdahulu hanya meguasai 4 rapalan jurus. Hanya Mo A Ye dan Lie Se Min, guru murid yang menguasai Rapalan 6 Dewa secara lengkap dan sempurna. Meski masih kalah dari kekuatan jurus Sakti Tapak Buddha, Rapalan 6 Dewa tetaplah jurus yang dasyat. Sesuai dengan namanya, Rapalan 6 Dewa terbagi menjadi 6 bentuk rapalan jurus. Setiap jurus memiliki kekuatan dan keunikan tersendiri yang terkandung dalam setiap pengerahannya;

Rapalan Pertama; Penguraian Vajra (Bom Pembongkar); Kuat dan solid bagai penusuk bermata berlian. Jurus yang mengandalkan tenaga dan daya serang yang besar. Bahkan Perisai Lonceng Emas akan kesulitan menahan daya penghancur jurus ini jika belum mencapai tahap 10. selain untuk menyerang, teknik pengerahan penguraian Vajra dapat juga dipakai untuk menetralisir racun dari dalam tubuh.


Rapalan Kedua; Pengikisan Arhat (Tenaga Lou Han); kuat dan lembut sanggup melenyapkan benda berat. Mengerahkan energi pelindung yang lembut namun kuat. Mamapu menetralisis dan mengikis serangan keras serta memanfaatkan tenaga lawan untuk menyerang balik.


Rapalan Ketiga; Kecepatan Dewa Guntur (Kilatan Dewa Guntur) ; selincah secepat kilat dan guntur. Pengguna jurus ini dapat bergerak secepat kilat bagaikan dewa guntur, sehingga waktu pun seolah bagai terhenti.


Rapalan Keempat; Pemusnahan Bodhisatva (Rapalan Bodhisatva); melibas bagai api melebur logam. Memiliki daya panas dasyat bagaikan api yang mampu melebur logam baja.


Rapalan Kelima; Pengacauan Guang Yin (Bayangan Ganda); Seribu tangan menyerang bersama mengaburkan wujud. Melontarkan puluhan pukulan dalam setarikan nafas dengan kombinasi serangan yang tak terhitung seakan-akan bagai Guang Yin dengan selaksa tangan.


Rapalan Keenam; Penghancuran Tatagatha (Telapak Tangan Buddha); Mengguncang bumi langit, terkuat dari keenam rapalan. Serangan telapak dengan daya hancur yang dasyat. Merupakan paling kuat dari kelima rapalan lainnya.











Rapalan 6 Dewa kembali ditemukan oleh seorang pendekar yang merupakan ketua generasi pertama dari Aliran Sakti. Namun meski memahami sandinya ia tak mampu menguasai jurus Rapalan 6 Dewa. Pendekar tersebut menetap di Jepang dan mendirikan Aliran Sakti yang akhirnya berakar di sana. Meski telah melalui beberapa generasi, semenjak ditemukan oleh ketua generasi pertama, belum ada seorang pun dari anggota Aliran Sakti yang menguasai Jurus Rapalan 6 Dewa.

Wednesday, 13 July 2011

Kitab Matahari Dunia

Kitab Matahari Dunia diciptakan oleh Long Xiaotian pendiri Aliran Ming Jiao. Long Xiaotian menciptakan Kitab Matahari Dunia bersamaan dengan Kitab Rembulan Dunia. Sebelum Ilmu Cermin Sakti Matahari Rembulan tercipta, dua ilmu ini merupakan ilmu andalan Aliran Ming Jiao. Kitab Matahari Dunia terbagi dalam 13 bagian. Latihan utama dipusatkan pada 12 titik nadi sirkulasi darah. Satu bagian lainnya melatih jalur sistem sirkulasi yang lain dan saling berhubungan sehingga kekuatan bisa dikumpulkan menjadi satu. Semuanya pun terbagi menjadi 13 jalur kung fu dan 12 rapalan sirkulasi titik nadi.

Titik ke-1; Shou Yang Ming Sirkulasi Chang (Usus)

Titik ke-2; Shou Tai Yin Sirkulasi Xie (Hawa Jahat)

Titik ke-3; Zhu Tai Yi Sirkulasi Xin (Jantung)

Titik ke-4; Shou Shao Yang Sirkulasi San Jiao (3 Pembakaran)

Titik ke-5; Zhu Yang Ming Sirkulasi Wei (Lambung)

Titik ke-6; Shou Shao Yin Sirkulasi Bao Xin (Pelindung Jantung)

Titik ke-7; Shao Tai Yang Sirkulasi Xiao Chang (Usus Kecil)

Titik ke-8; Shu Shao Yang Sirkulasi Dan (Empedu)

Titik ke-9; Zhu Tai Yin Sirkulasi Pi (Perut)

Titik ke-10; Zhu Tai Yin Sirkulasi Wei (Lambung)

Titik ke-11; Zhu Tai Yin Sirkulasi Guang (Kandung Kemih)

Titik ke-12; Zhu Tai Yin Sirkulasi Gan (Liver)

Panjang 12 sirkulasi darah utama diperkiran 13 zhang 8 chi. Fungsi utamanya mengendalikan kekuatan dan kelemahan seluruh organ dalam tubuh manusia. Orang yang sirkulasinya lemah maka akan sakit-sakitan. Sebaliknya yang sirkulasinya kuat maka akan sehat wal afiat.

Saat melatih Kitab Matahri Dunia, tubuh harus berada di lingkungan dengan suhu minus 40 derajat celcius. Tubuh kemudian dipaku dengan 12 batang paku besi berukuran 15 inci di setiap 12 titik utama sirkulasi. 12 titik dipantek hingga menembus sampai ke papan, sampai tubuh tak bisa bergerak sehingga sungguh menyakitkan. Orang yang berlatih harus menahan rasa dingin yang mengigit akibat pembekuan pembuluh darah serta rasa sakit yang amat menyiksa. Setelah itu harus mengalirkan energi sehingga bisa mengikat hawa ‘Yang’, kemudian sekuat tenaga dipusatkan di satu-satunya sistem sirkulasi. Saat seluruh jalur dapat ditembus dan dihubungkan maka energi matahari akan muncul, seluruh paku pun akan terpental keluar dari tubuh seperti anak panah. Setelah 12 sirkulasi darah utama menjadi lancar maka mulai dilatih setahap demi setahap untuk mencapai bagian rapalan ke-12. Namun untuk mencapai rapalan ke-13, maka harus dapat menghubungkan 12 jalur titik sirkulasi menjadi hawa matahari sehingga dapat mengumpulkan kekuatan hawa Yang menjadi satu. Namun pada tahap ini memiliki resiko yang amat tinggi dan dapat menyebabkan kematian, bahkan lebih beresiko dibandingkan berlatih tahap ke 7 Es Api Penggempur Langit.

Golok Tujuh Bintang


Golok 7 Bintang merupakan senjata mestika yang tercipta pada masa Dinasti Zhou. Pada masa itu Zhou You Wang sang Kaisar Dinasti Zhou memerintah dengan kejam, lalim dan semena-mena terhadap rakyat jelata. Zhou You Wang amat mencintai selirnya Bao shi. Demi menyenangkan hati selir kesayangannya, Zhou You Wang rela melakukan apa saja termasuk mengobarkan api peperangan dengan negeri tetangga. Zhou You Wang bahkan menguras harta rakyatnya demi membangun pagoda tinggi bertingkat untuk melihat bintang dengan Bao Shi. Hingga suatu malam di atas bangunan pagoda, Zhou You Wang dan selirnya melihat bintang berjatuhan memenuhi langit.

Zhou You Wang memerintah seluruh pejabat demi mencari bintang tersebut untuk dipersembahkan kepada Bao Shi. Sudah tentu, tidak ada seorang pun yang dapat menemukannya. Akibatnya Zhou You Wang murka. Banyak pejabat yang mengalami nasib naas dan dijatuhi hukuman mati. Hingga pada suatu hari seorang pejabat daerah datang menghadap Zho You Wang dan membawa 7 batu berwarna. Penjabat tersebut mengatakan bahwa dirinya telah menemukan bintang yang terjatuh dari langit yang berwarna cemerlang bagaikan batu permata. Zhou You Wang amat senang menerimanya, dia segera memerintahkan seorang pandai besi Lian Wu Wang untuk mengasah batu tersebut.

Lian Wu Wang memiliki sifat ksatria dan menjunjung kebenaran. Meski menerima perintah untuk mengasah 7 batu tersebut, dirinya membenci kezaliman raja Zhou You wang. Siang malam, Lian Wu Wang mengasah ketujuh batu sambil membuat rencana selanjutnya. Diluar dugaan batu asahannya menjadi batu berlian indah yang pertama kali dikenal sejarah. Tujuh batu yang telah diasah menjadi permata yang mengeluarkan cahaya bagaikanrembulan dan bintang. Kemudian 7 batu permata tersebut dipasang pada sebuah golok mestika yang kemudian dipersembahkan kepada raja Zhou You Wang. Lian Wu Wang mengutuk bahwa golok mestika ciptaannya kelak akan menjadi bintang kesialan yang membawa petaka bagi sang raja lalim tersebut. Zhou You Wang pun menghadiahkan Golok 7 Bintang kepada selir kesayangannya. Namun Boa Shi justru menghadiahkan kembali golok tersebut kepada Zhou You Wang dengan alasan golok lebih pantas untuk dihadiahkan kepada ksatria. Selir kesayangan menolak hediah pemberiannya, hal ini justru membuat Zhou You Wang menjadi gelisah sehingga kondisi fisiknya menurun.

Tanpa diketahui Golok Mestika 7 Bintang menyimpan suatu kekuatan aneh yang dapat memulihkan serta meningkatkan stamina dan kondisi Zhou You Wang. Namun semenjak saat itu kelakuan Zhou You Wang semakin menjadi-jadi. Dirinya hanya memikirkan kesenangan dan kenikmatan duniawi tanpa peduli akan urusan negara sehingga mengacaukan pemerintahan. Akibatnya kekuatan negeri Zhou semakin melemah sehingga ketika lawan menyerang dan terjadi pemberontakan Dinasti Zhou pun hancur. Zhou Yu Wang terlambat menyesali perbuatannya, dia pun bunuh diri dengan Golok 7 Bintang. Semenjak itu Golok tersebut dijuluki sebagai senjata mestika pembunuh penguasa lalim. Entah membawa kesialan atau keberuntungan bagi pemiliknya, namun yang pasti Golok 7 Bintang memiliki ketajaman yang luar biasa bahkan dapat membelah besi dan juga khasiat tenaga magnet yang terdapat pada 7 batu permata yang dapat meningkatkan tenaga dan vitalitas tubuh.

Sunday, 10 July 2011

Seribu Tangan Buddha Rulai

Tangan Seribu Buddha Rulai berkekuatan keras dan lembut. Perubahannya sulit diduga dan memerlukan latihan yang tinggi agar dapat menguasainya. Karena itu jarang ada yang mampu menggunakan jurus ini. Konon jurus ini diciptakan 200 tahun yang lalu oleh seorang Biksu Shaolin di akhir masa Dinasti Ming, Zhi San.

Jurus ke-1; Memutar Roda Dharma

Jurus ke-2; Budda Menyalakan Seribu Lampu















Jurus ke-3; Cahaya Buddha Menerangi Dunia











Jurus ke-4; Selaksa Buddha Hidup

Saturday, 9 July 2011

Pedang Batu Api


Dua ribu tahun silam, pada jaman ketika sering terjadinya gejolak peperangan. Gongsun Zhi terkenal sebagai seorang pembuat pedang yang handal. Dirinya menerima sepasang suami istri sebagai muridnya yang tak lain adalah Gan Jiang dan Mo Xie. Gongsun Zhi menghabiskan waktu hingga 3 tahun lamanya untuk menempa besi dingin tua hingga menjadi sebilah pedang pusaka. Pedang pusaka tersebut amatlah tajam bahkan mampu membelah sebuah batu besar hingga menjadi beberapa bagian. Meski pedang dari besi dingin tersebut amatlah hebat, namun bagi Gongshun Zhi hanyalah sebuah pedang yang memiliki ketajaman semata namun tak berjiwa, bukanlah pedang pusaka yang langka.

Sebuah pedang yang berjiwa takkan hidup jika hanya punya satu sifat Yin, namun harus menyerasikan sifat Yin dan Yang dalam besi pedang, barulah pedang tersebut dapat menjadi pusakan sakti nan langka. Tetapi besi dingin terlalu kental akan unsur Yin sehingga meski telah dibakar berkali-kali dengan api tungku tetap tak berhasil menyerap unsur panas. Demi mewujudkan keinginannya menciptakan pedang pusaka, Gongshun Zhi pun berkelana ditemani oleh kedua muridnya untuk mencari unsur panas yang dapat menyelaraskan jiwa pedang besi dingin. Hingga setahun kemudian Gongshun Zhi dan kedua muridnya tiba di tanah barat. Dari cerita seorang penggembala, Gongshun Zhi mengetahui bahwa setahun lalu di daerah tersebut jatuh sebuah batu aneh dari langit. Panas batu tersebut membuat air danau menjadi mendidih bahkan kemudian menjadi kering. Tanah dalam radius belasan mil menjadi kering bahkan hewan dan manusia terpaksa harus menyingkir karena terlalu panas.

Cerita sang penggembala memang tidak terlalu berlebihan. Batu api tersebut memancarkan hawa panas yang sedemikian dasyat dan luar biasa sehingga tanah dan pepohonan menjadi gersang. Gongshun Zhi yakin jika batu tersebut adalah intisari matahari yang jatuh ke bumi. Pedang besi dingin telah selesai diciptakan setahun lamanya, batu api juga telah berada di bumi dalam kurun waktu yang sama. Dirinya percaya bahwa pedang besi dingin memang ditakdirkan untuk bersatu dengan dengan batu tersebut. Gongshun Zhi berniat menyatukan hawa jiwa pedang besi dingin dengan batu api agar Yin dan Yang bisa menjadi satu dengan cara menebasnya.

Namun batu api mengandung energi yang amat besar. Bukan hanya tak bisa dibelah, Gongshun terpental jauh oleh daya tolaknya. Ketajaman pedang besi dingin tak cukup kuat untuk melawan hawa panas batu api, akibatnya Yin dan Yang saling menolak. Tetapi Gongshun Zhi tak putus asa, dirinya bertekad untuk menaklukan batu api dan tak akan kembali ke Cina sebelum berhasil. Tekad Gongshun Zhi sudah bulat, ia pun mendirikan tungku di samping batu api. Gan Jiang dan Mo Xie setiap hari tak kenal lelah untuk melayani segala keperluan gurunya.

Setiap hari Gongshun Zhi selalu duduk di sebelah batu api menahan panas yang luar biasa. Suhu pedang besi dingin pun mulai menurun. Lima tahun pun berlalu, namun Gongshun Zhi masih tidak beranjak dan menunggu kesempatan untuk menaklukan batu api. Hari-hari bagikan neraka membuat dirinya lebih tua 20 tahun. Gongshun Zhi yang terus mencoba menahan hawa panas batu api amatlah menderita. Namun di luar dugaan, dirinya mampu melatih kedua matanya menjadi Mata Sakti Pupil api. Dengan Mata Pupil Api, Gongshun Zhi dapat melihat ke dalam batu api bahwa di dalamnya terdapat energi jiwa yang sedang tumbuh.

Gongshun Zhi mengetahui bahwa jiwa tersebut akan segera lahir. Dirinya menyerahkan babad kitab batu api kepada kedua muridnya Gan Jiang dan Moxie, serta menyuruh mereka agar segera pergi. Gongshun Zhi berpesan jika nanti dirinya telah tiada, supaya muridnya menjalankan wasiat yang telah dipesankan sebelumnya. Energi batu api meningkat hingga berlipat ganda, dari dalamnya muncul Phoenix merah yang terselimuti energi api. Tanpa ragu-ragu Gongshun Zhi segera menyerang sang Phoenix dengan pedang besi dingin guna menyerap energi hawa api.

Energi api menghancurkan segalanya. Api, manusia dan pedang menjadi satu. Pedang besi dingin pun menjadi membara mengambil panas dari batu api. Besi dingin dan batu api bagaikan Yin dan Yang yang saling melebur, kemudian menyerap jiwa Gongshun Zhi. Gongshun Zhi sang pembuat pedang sejaman mengorbankan dirinya untuk menciptakan pusaka langka, sehingga terciptalah pedang sakti yang tiada duanya. Sebelum meninggal Gongshun Zhi berpesan agar pedang tersebut diberi nama Pedang Batu Api. Konon babad Pedang Batu Api peninggalan Gongshun Zhi dapat dipadukan dengan kesaktian Ilmu Kitab Doktrin (Dao Jing), sehingga sang penyandang ilmu tersebut akan menjadi semakin sakti, awet muda serta hidup abadi.

Friday, 8 July 2011

Pedang Jenderal Cakap (Gan Jiang) dan Pedang Penangkal Bala (Mo Xie)

Pedang Jenderal Cakap (Gan Jiang) dan Pedang Penangkal Bala (Mo Xie) adalah 2 bilah pedang yang tercipta pada zaman negara-negara berperang. Ketika masa itu, Raja Negeri Wu memerintahkan seorang pandai besi kenamaan bernama Gan Jiang untuk menempa sebilah pedang. Setelah menerima titah, Gan Jiang mencari bahan material, ia pun menemukan sebongkah bijih besi besar, karena berwarna gelap Gan Jiang menamakannya Batu Hitam. Gan Jiang telah berusaha siang malam dengan segala cara untuk melebur Batu Hitam namun selalu gagal. Sebagai pandai besi terbaik Gan Jiang menghadapi masalah besar. Dirinya pun putus asa, dalam sebulan rambutnya memutih dan wajahnya menjadi bertambah tua. Batas waktu yang diberikan hampir habis, Gan Jiang semakin risau, hari-harinya dihabiskan dengan minum arak dan mabuk-mabukan.

Istri Gan Jiang; Mo Xie merasa iba sekaligus cemas melihat kondisi suaminya. Hingga suatu hari dalam keadaan mabuk tanpa sadar Gan Jian berkata; "kudengar pandai besi zaman dulu membuat pedang dengan mengorbankan nyawa manusia, tapi mana mungkin melakukan itu, kali ini aku sudah pasti gagal". Mendengar kata-kata suaminya, Mo Xie bertekad mengorbankan dirinya demi menjaga reputasi dan nama baik Gan Jiang sebagai seorang pandai besi terbaik sepanjang masa.

Tekad Mo Xie untuk berkorban sudah bulat, Gan Jiang tak kuasa menahan keinginan istrinya. Ia amat menyesal telah kelepasan bicara, sehingga membuat istrinya mengambil keputusan yang sedemikian rupa. Sebelum melompat ke dalam bara tungku api, Mo Xie meninggalkan pesan; "suamiku, aku akan menjadi keberhasilanmu sepanjang masa. cinta Gan Jiang dan Mo Xie sangat dalam dan abadi, tidak akan pernah berubah".

Mo Xie tak sayang berkorban nyawa. Hati Gan Jiang sangat pedih karena harus kehilangan istri tercinta. Agar pengorbanan istrinya tak sia-sia, Gan Jiang bekerja keras untuk melebur Batu Hitam. Gan Jiang seakan melihat roh Mo Xie yang mengitari api dan mencairkan Batu Hitam. Setelah 49 hari, Batu Hitam akhirnya mencair. Gan Jiang bekerja dengan bercucuran air mata. Setelah lama ditempa kedua akhirnya bijih besi menjadi berkilauan seperti pertama. Dari Batu Hitam terciptalah sepasang pedang jantan dan betina yang sangat tajam. Untuk memperingati istrinya, kedua pedang tersebut diberi nama Jenderal Cakap (Gan Jiang) dan Penangkal Bala (Mo Xie). Gan Jiang Hanya memberikan pedang Jenderal Cakap kepada raja Wu. Sedangkan pedang Penangkal Bala dibawa sendiri untuk pelepas rindu.

Belakangan Gan Jiang tidak sanggup lagi menahan beban rindu, ia pun bunuh diri. Semenjak saat itu, Pedang Jenderal Cakap dan Pedang Penangkal Bala dianggap sebagai pedang paling ideal. Namun anehnya semenjak dulu kedua pedang ini tak pernah bersatu sehingga kedua pasangan ini tak pernah bertemu. Sampai pada masa Dinasti Tang seorang ahli pedang menemukan Pedang Penangkal Bala, 10 tahun kemudian ia baru menemukan Pedang Jenderal Cakap. Ahli pedang tersebut berpendapat; bahwa sepesang pedang tersebut adalah pedang langka yang mengandung darah dan daging, dalam pedang ada jiwa cinta. Penangkal Bala pedang cinta, sedangkan Jenderal Cakap pedang kesetiaan. Jenderal Cakap dan Penangkal Bala saling bertautan, satu jiwa dua raga. Cinta mereka yang tak pernah luntur telah membuktikan adanya cinta di dunia. Sayangnya penyandang pedang pasti membunuh. Akhirnya cinta menjadi benci dan kesetiaan menjadi dendam. Kedua pedang tetap takkan bisa terhindar dari pertumpahan darah.

Wednesday, 6 July 2011

Jin Shen Long

Merupakan salah satu dari 4 pelindung Aliran Teratai Putih (Jin Shen Long, Yin Shen Long, Tie Shen Long dan Tong Shen Long). Sebagai pelindung emas, Jin Shen Long memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan 3 pelindung lainnya. Bahkan kedudukan Jin Shen Long tidak dapat dipengaruhi oleh kekuasaan Dong Fang Wudi sekalipun. Ini dikarenakan Jin Shen Long adalah anggota senior Aliran Teratai Putih yang telah lama bergabung sebelum Dong Fang Wudi berkuasa serta menjadi orang kepercayaan ketua Teratai Putih terdahulu; Dang Fang Zhen Yao. Sifatnya yang tenang dan berwibawa seakan-akan memperlihatkan dirinya bagaikan seorang guru agung yang disegani. Namun Jin Shen Long juga bersifat angkuh dan kejam. Dirinya tak segan-segan untuk menghabisi nyawa orang yang tidak berdosa. Bahkan demi mencapai tujuannya, Jin Shen Long berani untuk menentang ketuanya sendiri; Dong Fang Wudi. Jin She Long mengabdi kepada Aliran Teratai Putih semata-mata demi kesetiaannya kepada Dong Fang Zhen Yao. Bahkan dirinya mendidik penerus dari ketua terdahulu; Dong Fang Zhenlong, agar kelak dapat menjadi ketua berikutnya dari Aliran Teratai Putih.

Dengan Ilmu Sisik Emas, kekuatan Jin Shen Long hanya terpaut sedikit di bawah Ilmu 9 Matahari milik Dong Fang Wudi. Berbeda dengan dua saudara seperguruannya; Raja Tinju dan Raja Tendangan yang hanya menguasai satu unsur dari Ilmu Sisik Emas, Jin Shen Long menguasai ilmu tersebut secara lengkap dan sempurna. Kekuatan Jin Shen Long bahkan hampir dapat mengimbangi Dewa Iblis Tua sang ketua senior Aliran Lou Cha serta Wang Feng Lei yang telah menembus tahap Es Api Hitam kelam. Meski memiliki kedudukan terhormat di Aliran Teratai putih, namun semenjak Dong Fang Wudi merekrut Wang Feng Lei dan Jin Louhan sebagai Duta Rembulan dan Matahari Aliran Teratai putih, Jin Shen Long tidak terlalu dianggap lagi oleh Dong Fang Wudi.